Ilustrasi kebanyakan makan gula. Foto: vchal/Shutterstock
Seiring bertambahnya usia, risiko seseorang mengalami hipertensi (tekanan darah tinggi) dan diabetes memang semakin besar. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari pola makan yang sembarangan, malas gerak, stres berkepanjangan, sampai faktor keturunan.
Salah satu penyakit yang cukup sering menghantui banyak orang adalah hipertensi alias tekanan darah tinggi. Enggak heran kalau penyakit ini dijuluki "silent killer". Gejalanya memang jarang terasa, tahu-tahu muncul komplikasi serius seperti stroke atau serangan jantung. Seram, bukan?
Begitu pula dengan diabetes. Meski sering disebut sebagai "penyakit gula", faktanya diabetes enggak cuma disebabkan oleh konsumsi gula yang berlebihan. Penyakit ini terjadi karena kadar gula darah terlalu tinggi dan tubuh kesulitan mengaturnya. Dan yang lebih mengejutkan, kedua penyakit ini saling berkaitan. Orang yang kena diabetes punya risiko lebih tinggi untuk kena hipertensi, begitu pun sebaliknya.
Kabar baiknya, para ilmuwan menemukan ternyata kita bisa menurunkan risiko dua penyakit kronis ini dengan cara yang cukup sederhana, yaitu membatasi mengonsumsi gula sejak awal kehidupan. Artinya, sejak bayi masih dalam kandungan hingga usia dua tahun, periode yang disebut sebagai 1.000 hari pertama kehidupan.
Ada penelitian menarik dari Tadeja Gracner, Claire Boone, dan Paul J. Gertler yang mengungkap fakta penting. Dalam studi mereka yang berjudul "Exposure to Sugar Rationing in the First 1000 Days of Life", anak-anak yang dibesarkan dengan asupan gula rendah sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun, punya risiko 35% lebih rendah terkena diabetes tipe 2 dan 20% lebih rendah terkena hipertensi saat dewasa.
Ilustrasi anak makan makanan manis. Foto: Dmitry Lobanov/Shutterstock
Tak hanya itu, pola makan rendah gula sejak awal juga terbukti memperlambat kemunculan penyakit-penyakit tersebut. Orang yang sejak kecil tidak banyak mengonsumsi gula cenderung mengalami diabetes empat tahun lebih lambat, dan tekanan darah tinggi dua tahun lebih lambat dibanding mereka yang terbiasa mengonsumsi gula dalam jumlah tinggi sejak dini.
"Paparan lingkungan rendah gula sejak dalam kandungan dan masa awal anak-anak secara signifikan mengurangi risiko diabetes dan hipertensi di kemudian hari, sekaligus menunda kemunculannya," ungkap Tadeja Gračner dari University of Southern California di Los Angeles seperti dikutip dari The Guardian, Selasa (27/5).
Peneliti memanfaatkan "eksperimen alami" yang terjadi di Inggris setelah masa pengendalian gula dan permen pasca-Perang Dunia II berakhir pada tahun 1953. Selama masa pembatasan, konsumsi gula sebanding dengan pedoman gizi modern. Namun setelah pembatasan dicabut, konsumsi gula hampir dua kali lipat, dari sekitar 40 gram menjadi 80 gram per hari.
Dengan menggunakan data dari UK Biobank, para peneliti membandingkan kesehatan orang-orang paruh baya yang lahir selama masa pembatasan gula (38.000 orang) dengan mereka yang lahir setelahnya (22.000 orang).
Analisis mereka yang dipublikasikan di jurnal Science, menemukan bahwa angka diabetes dan tekanan darah tinggi jauh lebih rendah pada mereka yang dikandung dan berusia dua tahun saat pembatasan gula masih berlangsung. Waktu yang dihabiskan dalam kandungan menyumbang sekitar sepertiga dari penurunan risiko tersebut.
Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) juga menyarankan agar asupan gula bebas, yakni gula tambahan dalam makanan dan minuman, serta gula alami dalam madu, sirup, dan jus buah atau sayur tanpa pemanis, tidak melebihi 5% dari total kalori harian.
Untuk orang dewasa, ini setara dengan sekitar 30 gram atau tujuh kubus gula per hari. Meski belum ada panduan khusus untuk anak di bawah usia empat tahun, mereka dianjurkan untuk menghindari minuman manis dan makanan tinggi gula tambahan. Sayangnya, rata-rata masyarakat Inggris mengonsumsi hampir dua kali lipat dari batas yang direkomendasikan ini.
"Kita semua ingin hidup sehat dan memberikan awal kehidupan terbaik bagi anak-anak. Mengurangi gula sejak dini adalah langkah penting ke arah itu. Namun, hal ini tidak mudah. Gula tambahan ada di mana-mana, bahkan dalam makanan bayi dan balita, ditambah lagi anak-anak terus-menerus terpapar iklan makanan manis di televisi," tambah Gračner.
Ilustrasi cek hipertensi di rumah sakit. Foto: Shutterstock
Menurut Gračner, untuk benar-benar menurunkan paparan gula pada anak, dibutuhkan upaya dari berbagai pihak. Selain meningkatkan literasi gizi orang tua, perusahaan juga perlu diminta bertanggung jawab dalam menghadirkan pilihan makanan bayi yang lebih sehat, serta membatasi pemasaran dan harga makanan manis yang menyasar anak-anak.
"Dengan informasi, lingkungan, dan insentif yang tepat, orang tua akan lebih mudah membatasi asupan gula bagi anak maupun diri mereka sendiri," jelasnya.
Profesor Keith Godfrey dari University of Southampton juga menyebut bahwa temuan ini sebagai bukti kuat, membatasi paparan gula sejak dalam kandungan hingga masa bayi dapat memberikan manfaat jangka panjang.
"Ini adalah bukti baru yang meyakinkan bahwa mengurangi paparan gula sejak dalam kandungan dan masa bayi memiliki manfaat jangka panjang, termasuk menurunkan risiko diabetes dan tekanan darah tinggi di usia dewasa," kata dia.
Sementara itu, Nina Rogers dari London School of Hygiene and Tropical Medicine menekankan bahwa meskipun sudah banyak bukti tentang dampak buruk konsumsi gula berlebih terhadap kesehatan anak-anak dan orang dewasa, studi ini secara khusus menyoroti pentingnya mengurangi gula tambahan sejak masa pranatal dan awal kehidupan untuk menekan risiko penyakit di usia paruh baya.
"Temuan ini menunjukkan perlunya intervensi kesehatan masyarakat yang menyasar periode perkembangan kritis ini, agar keluarga lebih mudah mendapatkan akses ke pola makan rendah gula yang berkualitas dengan harga terjangkau."