Banyak orang menganggap jamu adalah minuman orang tua. Rasanya yang pahit dan kuat akan aroma rempah, membuat kebanyakan anak muda enggan mengonsumsinya. Padahal, jamu adalah minuman kesehatan asli Indonesia.
Namun, menariknya, dalam jurnal ilmiah yang diterbitkan Akademi Sages, sebuah sekolah kuliner dan bisnis di Jawa Timur, mengungkapkan 60,7 persen responden anak muda berusia 18-25 tahun, mau mengonsumsi jamu demi alasan kesehatan.
Lebih lanjut, penelitian yang melibatkan jenis jamu yang mereka sukai adalah jamu modern dan praktis. Sebagian besar responden lebih menyukai produk olahan jamu modern seperti permen dan es krim.
Melalui survei jurnal berjudul, "Transformasi Konsumsi Jamu di Kalangan Generasi Muda: Analisis di Semarang Selatan", turut menyimpulkan bahwa produsen jamu perlu untuk terus berinovasi dan memperbarui pendekatan pemasaran mereka agar lebih sesuai dengan preferensi generasi muda.
Hal ini rupanya juga mendapat perhatian dari Kepala Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN, Dr Sofa Fajriah. Doktor Sofa menegaskan pentingnya sinergi antara ilmu pengetahuan dan warisan budaya dalam pengembangan produk jamu modern.
Mengutip Antara, Doktor Sofa yang baru-baru ini menjadi pembicara dalam acara Kosme Health Workshop di Cikarang, Jawa Barat pada Selasa (20/5) mengatakan, "Kosme menunjukkan bahwa riset dan budaya bisa berjalan beriringan untuk membentuk produk yang tidak hanya modern, tapi juga bernilai budaya tinggi."
Beberapa produk jamu modern yang kini sudah ada menggabungkan inovasi menarik seperti jamu sparkling, boba herbal, hingga gummy herbal.
Ilustrasi jamu. Foto: Shutter Stock
Menurut riset Tim CMI, pasar obat tradisional Indonesia diproyeksikan tumbuh dengan laju CAGR 7,1 persen selama 2024–2033, dengan estimasi nilai pasar mencapai 25,4 miliar dolar AS pada akhir periode.
Kemudian, WHO juga mengungkapkan, 70 persen masyarakat global kini beralih ke produk alami dan herbal pascapandemi COVID-19.
Terlebih, Indonesia kaya akan biodiversitas yakni lebih dari 30.000 spesies tanaman, dengan 7.500 di antaranya berkhasiat obat. Hal inilah yang seharusnya membuat Indonesia lebih percaya diri dalam menempatkan namanya di posisi strategis untuk menjadi pusat pengembangan produk herbal dunia.