Tiap Tahun 50 Ribu Bayi di RI Lahir Kelainan Jantung, Baru 7.500 yang Tertangani - my blog

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Tiap Tahun 50 Ribu Bayi di RI Lahir Kelainan Jantung, Baru 7.500 yang Tertangani
May 22nd 2025, 12:07 by kumparanMOM

Tiap Tahun 50 Ribu Bayi di RI Lahir Kelainan Jantung, Baru 7.500 yang Tertangani. Foto: Anucha Cheechang/Shutterstock
Tiap Tahun 50 Ribu Bayi di RI Lahir Kelainan Jantung, Baru 7.500 yang Tertangani. Foto: Anucha Cheechang/Shutterstock

Penyakit jantung bawaan (PJB) atau congenital heart disease merupakan salah satu kelainan jantung yang dialami bayi sejak dilahirkan. PJB terjadi ketika seseorang memiliki kelainan struktur jantung atau sirkulasi di jantung akibat kegagalan proses pembentukan organ saat berada di dalam kandungan.

Di Indonesia, ada sekitar 50 ribu bayi lahir dengan penyakit jantung bawaan setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, sekitar 12 ribu adalah kasus dengan PJB kritis yang membutuhkan penanganan segera.

Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2024 menunjukkan intervensi bedah maupun non-bedah pada anak dengan PJB baru mencapai 7.500 kasus. Dengan rincian SI (Surgical Intervention) sebanyak 3.140 kasus dan NSI (Non-Surgical Intervention) sebanyak 4.363 kasus.

Yang berarti, ribuan anak Indonesia masih belum mendapatkan penanganan yang optimal karena masih terbatasnya akses layanan kesehatan.

Ketua IDAI Ungkap Dokter Subspesialis Jantung Anak Masih Sedikit

Ketua IDAI Dr. Piprim Basarah (tengah) dan Ketua UKK Kardiologi IDAI Dr Rizky Adriansyah (kanan) pada konferensi pers penyakit jantung bawaan anak di Indonesia. Foto: Nabilla Fatiara/kumparan
Ketua IDAI Dr. Piprim Basarah (tengah) dan Ketua UKK Kardiologi IDAI Dr Rizky Adriansyah (kanan) pada konferensi pers penyakit jantung bawaan anak di Indonesia. Foto: Nabilla Fatiara/kumparan

Ketua PP IDAI, DR. Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), menjelaskan, masalah kesehatan jantung bawaan masih cukup serius di Indonesia. Bahkan, penyakit jantung bawaan masih menjadi penyumbang kematian yang paling besar akibat kelainan bawaan pada anak-anak.

Dan salah satu yang menjadi tantangan adalah masih terbatasnya dokter subspesialis jantung anak di Indonesia. Saat ini, hanya terdapat 105 dokter subspesialis jantung anak aktif, yang terdiri dari 70 spesialis anak subspesialis jantung dan 35 dokter spesialis jantung pediatrik yang tersebar di 18 provinsi. Itu pun distribusinya tidak merata, Moms.

Dr. Piprim menyebut masih terbatas dan timpangnya jumlah dokter subspesialis jantung anak membuat IDAI menjalankan beberapa langkah strategis. Salah satunya melatih bidan hingga tenaga kesehatan untuk bisa melakukan deteksi dini risiko penyakit jantung bawaan pada bayi baru lahir.

"Kiprah konsultan jantung bawaan di Indonesia itu sama-sama berkontribusi, pertama melakukan deteksi dini. Itu bisa dilakukan dengan sederhana melalui alat pulse oximetry. Dan kita sudah banyak melakukan pelatihan-pelatihan, bahkan sampai bidan-bidan itu dilatih bagaimana untuk memeriksa saturasi oksigen pada bayi baru lahir. Dari situ kita bisa melihat ada kemungkinan penyakit jantung bawaan atau tidak," jelas Dr. Piprim konferensi pers di Gedung IDAI, Jakarta Pusat, Rabu (21/5).

Para konsultan jantung anak juga selama ini berperan penting dalam berbagai tindakan intervensi kardiologi pada anak, yang bahkan harus dilakukan dalam situasi kritis sekalipun.

Meski begitu, Dr. Piprim mengingatkan penyakit jantung bawaan pada anak sebenarnya bisa diatasi dan diobati, bahkan tanpa perlu operasi.

Kondisi Ketimpangan Layanan Kesehatan untuk Tangani Masalah Penyakit Jantung Bawaan

Ketua UKK Kardiologi IDAI Dr Rizky Adriansyah. Foto: Nabilla Fatiara/kumparan
Ketua UKK Kardiologi IDAI Dr Rizky Adriansyah. Foto: Nabilla Fatiara/kumparan

Pada kesempatan yang sama, Ketua UKK Kardiologi IDAI, Dr. Rizky Adriansyah, Sp.A(K), menyoroti intervensi bedah maupun nonbedah pada anak dengan penyakit jantung bawaan di Indonesia yang masih menunjukkan ketimpangan.

Misalnya, sejumlah provinsi masih belum memiliki fasilitas bedah jantung anak, sementara beban kasus terus meningkat.

"Layanan di banyak daerah belum dilengkapi dengan ICU khusus jantung anak (PCICU), cath-lab yang memadai, obat-obatan penting seperti prostaglandin IV, hingga SDM yang terlatih khusus menangani kasus kompleks jantung anak," kata Dr. Rizky.

Ya Moms, krisis SDM terjadi karena hanya ada 105 dokter spesialis jantung anak di Indonesia. Penambahan dokternya hanya 4-6 orang per tahun. Dibandingkan dengan di Amerika Serikat, penambahannya bisa mencapai 90 orang setiap tahunnya.

IDAI pun menyiapkan beberapa program strategis untuk memenuhi kebutuhan akses layanan kesehatan bagi pasien penyakit jantung bawaan.

"Dilakukan pemenuhan alat dan pelatihan, wajib buat dokter umum, perawat, dan bidan namanya INPOS (Indonesia Newborn Pulse Oximetry Screening) untuk bisa melakukan skrining awal penyakit jantung bawaan kritis dengan menggunakan alat ini," tutur Dr. Rizky.

Lalu pelatihan skrining juga diterapkan bagi dokter spesialis anak di Indonesia agar mampu menggunakan ekokardiografi dasar.

Dr. Rizky juga menjelaskan, IDAI telah menerapkan program intervensi terstruktur melalui program flying doctor dan proctorship, dengan mendampingi rumah sakit daerah agar mandiri dalam intervensi PJB. Dan lebih dari 15 RS vertikal (RS yang berada di bawah naungan Kemenkes) dan provinsi telah dibantu IDAI agar mampu melakukan tindakan jantung anak secara mandiri.

Ke depannya, IDAI akan berfokus pada penguatan sistem layanan kesehatan dan memperkuat SDM di seluruh wilayah Indonesia. Semua upaya ini dilakukan sebagai bentuk komitmen IDAI dalam mendukung Asta Cita pemerintahan Prabowo Subianto, khususnya dalam penguatan SDM dan sistem kesehatan.

"Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan jantung anak melalui kolaborasi dengan pemerintah, organisasi profesi, dan masyarakat. Setiap anak berhak mendapatkan penanganan terbaik untuk masa depan yang sehat. Kami juga berharap dukungan masyarakat untuk aktif melakukan deteksi dini PJB dengan memanfaatkan layanan skrining di puskesmas dan RS terdekat," tutup Dr. Rizky.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Next Post Previous Post