Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi, Bisakah Dicegah Sejak Kehamilan? Foto: Shutter Stock
Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan salah satu jenis kelainan bawaan yang sudah ada sejak bayi lahir. Penyebab terjadinya PJB masih belum diketahui pasti, namun ibu hamil bisa meminimalisir masalah kesehatan ini dengan menghindari sejumlah faktor risiko.
Nah Moms, Ketua PP Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), DR. Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), menjelaskan pembentukan jantung pada janin terjadi dalam periode tiga bulan pertama di dalam kandungan. Maka dari itu, trimester pertama menjadi periode krusial dengan cara menghindari faktor risiko PJB, sehingga pertumbuhan organ jantung si kecil lebih optimal.
"Segala sesuatu di tiga bulan pertama kehamilan itulah yang kemudian bisa bikin penyakit jantung bawaan. Karena pembentukan jantung itu di tiga bulan pertama sudah selesai," jelas Dr. Piprim dalam konferensi pers di Gedung IDAI, Jakarta Pusat, Rabu (21/5).
Lantas, apa saja berbagai faktor risiko tersebut?
Ibu dengan kondisi kesehatan diabetes atau hipertensi
Obesitas saat hamil
Defisiensi asam folat dan zat besi
Konsumsi obat-obatan seperti antidepresan atau antiepilepsi
Konsumsi minuman beralkohol
Perokok berat atau perokok pasif
Terinfeksi rubella saat hamil
Bahkan, berbagai faktor di atas tidak hanya dapat menyebabkan penyakit jantung bawaan, tetapi juga meningkatkan risiko kelainan bawaan lainnya, Moms.
Ketua IDAI Dr. Piprim Basarah (tengah) dan Ketua UKK Kardiologi IDAI Dr Rizky Adriansyah (kanan) pada konferensi pers penyakit jantung bawaan anak di Indonesia. Foto: Nabilla Fatiara/kumparan
"Jadi, memperbaiki lifestyle pada calon ibu, termasuk perbaikan nutrisi, (mencegah) defisiensi asam folat, dan asupan nutrisi yang baik bisa berkontribusi mencegah penyakit janting bawaan," tutur Dr. Piprim.
Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan Sejak Kehamilan
Sebenarnya, penyakit jantung bawaan sudah bisa dideteksi sejak kehamilan ibu lewat pemeriksaan USG fetomaternal. Namun, sayangnya, jumlah dokter ahli jantung anak atau pun dokter kandungan yang bisa melakukan tindakan USG fetomaternal masih sedikit.
"Problemnya adalah dokter ahli jantung anak atau pun dokter kandungan yang bisa melakukan tindakan USG fetomaternal yang untuk deteksi jantung janin itu di Indonesia jauh lebih sedikit jumlahnya," ungkap Ketua UKK Kardiologi IDAI, Dr. Rizky Adriansyah, Sp.A(K).
Tidak hanya soal SDM, tetap Dr. Rizky juga menyoroti peralatan-peralatan pemeriksaan USG fetomaternal yang belum merata di semua wilayah di Indonesia.
IDAI pun juga saat ini terus berkomitmen melakukan berbagai intervensi, sehingga penanganan penyakit jantung bawaan bisa lebih optimal. Mengingat pelayanan yang masih berkonsentrasi di Jakarta, Dr. Rizky menyebut IDAI telah melakukan pendampingan di sejumlah rumah sakit di daerah untuk memperluas akses intervensi PJB.
Ia menjelaskan, terdapat sejumlah dokter ahli jantung anak dengan pengalaman lebih dari 10 tahun yang akan membantu hingga RS tersebut dapat melakukan layanan kesehatan untuk pasien PJB secara mandiri. Selain RS daerah, pendampingan diberikan oleh pihaknya ke RS vertikal.
Kemudian juga para dokter umum, perawat, dan bidan dilatih skrining dan diagnosis awal PJB melalui program Indonesian Newborn Pulse Oximetry Screening Training (INPOST). Serta, pelatihan skrining juga diterapkan bagi dokter spesialis anak di Indonesia agar mampu menggunakan ekokardiografi dasar.
Sementara bagi calon ibu diminta sudah mempersiapkan diri dengan matang, termasuk mengedukasi diri seputar apa saja yang bisa berbahaya bagi janin maupun ibu hamil itu sendiri. Bila Anda sudah punya anak dan berencana hamil lagi, maka pastikan si kecil sudah mendapat vaksinasi MR yang dapat melindungi anak dari campak dan rubella.