Ilustrasi Ibu Dirawat di Rumah Sakit. Foto: wutzkohphoto/Shutterstock
Seorang ibu hamil bernama Adriana Smith (30) telah dinyatakan mati otak pada 19 Februari 2025. Namun, ia tidak langsung dinyatakan meninggal, tetapi diberi alat bantu yang membuat dia tetap hidup setidaknya dalam tiga bulan ke depan.
Associated Press melansir, Smith yang merupakan seorang perawat yang sedang hamil dua bulan ketika ia dinyatakan mengalami mati otak. Akan tetapi, ia 'dipaksa' tetap hidup hingga Smith bisa melahirkan anak yang sedang dikandungnya.
"Dokter mengatakan undang-undang antiaborsi Georgia yang ketat mengharuskan ia tetap menggunakan alat bantu hidup hingga janin cukup berkembang untuk dilahirkan," ucap ibu Smith, April Newkirk, dalam laman penggalangan dana online yang dibuatnya.
Newkirk kepada stasiun TV Atlanta WXIA menceritakan awal mula putrinya didiagnosis mati otak. Saat itu, putrinya sempat mengeluhkan sakit kepala lalu pergi ke rumah sakit. Ia hanya diberi obat-obatan saja dan diperbolehkan pulang.
Beberapa waktu kemudian, pasangannya terbangun karena melihat Smith terengah-engah dan menelepon 911. Emory University Hospital yang menangani Smith mengungkapkan dia mengalami pembekuan darah di otak dan dinyatakan mati otak. Pihak keluarga pun bertanya-tanya apakah perawatan yang diberikan kepadanya sesuai dengan gejalanya.
Namun, putrinya harus tetap hidup dan mempertahankan janin yang dikandungnya. Seperti disebutkan, UU antiaborsi Georgia memiliki aturan yang cukup ketat, yakni membatasi aborsi setelah aktivitas jantung terdeteksi atau sekitar dan memperikan hak kepada janin untuk bisa dilahirkan.
Ibu Smith pun mengungkapkan keluarganya kini tidak bisa bersuara banyak dalam situasi sulit seperti ini. Apalagi tanggal persalinan masih beberapa bulan lagi. Keluarganya pun bertanya-tanya apakah bayinya akan lahir dengan cacat atau bahkan dapat bertahan hidup.
Emory Healthcare yang mengelola rumah sakit tersebut belum menjelaskan bagaimana keputusan dokter yang tetap menggunakan alat bantu hidup terhadap Smith. Dalam sebuah pertanyaan mereka hanya telah mempertimbangkan undang-undang aborsi di Georgia dan semua undang-undang yang berlaku. Tiga negara bagian lainnya memiliki larangan serupa yang berlaku sekitar 6 minggu kehamilan, dan 12 larangan aborsi pada semua tahap kehamilan.
Saat ini, Smith menggunakan ventilator dan kemungkinan beberapa perangkat alat bantu hidup lainnya, sampai dia benar-benar meninggal dunia. Akan tetapi, pihak Emory belum mengumumkan kepada publik tentang apa yang dilakukan tim dokter yang memungkinkan janin Smith terus berkembang.
Kasus Ibu Hamil Mati Otak yang Melahirkan Bayinya
Ilustrasi mati otak. Foto: Shutterstock
Dalam kasus lain di Florida, dokter pernah berhasil membantu kelahiran bayi dari seorang ibu hamil yang dinyatakan mati otak saat hamil 22 minggu. Keluarga wanita yang kala itu berusia 31 tahun itu ingin mempertahankan janinnya, menurut dokter dari Fakultas Kedokteran University of Florida College of Medicine dalam sebuah makalah tahuhn 2023.
Pada hari pertama masuk RS untuk perawatan, dokter memberikan hormon untuk meningkatkan tekanan darahnya, dan memasang selang untuk makanan. Setelah dipindahkan ke ICU, seorang perawat berjaga di sampingnya untuk memantau detak jantung dan gerakan janin.
Ia menggunakan ventilator, rutin menerima steroid dan hormon, serta membutuhkan berbagai antibiotik untuk mengobati pneumonia. Tim medis yang turut memantau ibu tersebut antara lain kebidanan, neonatalogi, radiologi, dan endokrinologi.
Kemudian, di usia kandungan 33 minggu, dokter melakukan operasi caesar untuk mengeluarkan bayi, karena mengalami penurunan detak jantung, meski bayi tampak sehat ketika dilahirkan.