Melintasi Lorong Pemukiman Padat Penduduk: Perawat paliatif Tyas melintasi lorong permukiman padat penduduk usai memeriksa pasiennya di Jakarta. Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO
Di sudut sunyi sebuah rumah mungil yang hampir tak tersentuh cahaya matahari, seorang perempuan bernama Mutiara yang akrab disapa Muti menemani seorang anak dengan tubuh mungil namun menanggung beban yang berat. Muti bukan sekadar perawat, dia adalah seorang perawat paliatif.
Usai Memeriksa Pasien: Perawat paliatif Tyas menuruni tangga di permukiman padat penduduk usai memeriksa pasiennya di Jakarta. Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO
Patialif merupakan perawatan berfokus untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan penyakit serius atau kronis, terutama yang tidak dapat disembuhkan seperti penyakit kanker dan HIV.
Kunjungan Pasien: Perawat paliatif Tyas melakukan kunjungan ke pasiennya di Jakarta. Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO
Sosoknya seolah menjadi saksi dari kehidupan yang melambat menuju keabadian. Dia hadir bukan untuk menyembuhkan tetapi juga untuk memastikan setiap detik yang tersisa dalam hidup pasiennya tidak diisi oleh derita.
Memeriksa Pasien: Perawat paliatif Tyas memeriksa pasiennya di Jakarta. Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO
Sejak bergabung dengan Yayasan Rumah Rachel (Rachel House) pada 2021, Muti telah menjadi pelayan jiwa bagi anak-anak dengan penyakit yang mengancam nyawa. Meski sempat mundur sejenak karena buah hatinya jatuh sakit, namun cinta dan panggilan hidup membawanya kembali di akhir 2024. Dalam ruang-ruang sunyi ia hadir bukan hanya membawa obat tapi juga kehangatan, tawa, bahkan obrolan sederhana yang membuat pasiennya merasa utuh sebagai manusia, bukan sekadar tubuh yang dirawat.
Menemani Pasien Melakukan Pengobatan: Perawat paliatif Mutiara menemani pasiennya saat akan melakukan pengobatan di rumah sakit di Jakarta. Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO
Baginya paliatif adalah seni menghadirkan kenyamanan di tengah luka. Dia mendengar lebih banyak dari yang terucap serta meraba gejolak batin yang tak tampak di layar monitor. Dia paham tidak semua nyeri bisa disuntikkan analgesik melainkan bisa disembuhkan oleh kehadiran, empati, dan kepercayaan yang tumbuh perlahan.
Memeriksa Pasien: Perawat paliatif Mutiara (kanan) memeriksa pasiennya di Jakarta. Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO
Pasiennya tidak takut meninggal dunia, mereka hanya takut meninggalkan ibu yang akan sendirian, adik yang tak punya teman bermain, atau merasa bersalah karena tak kunjung sembuh setelah semua biaya dikorbankan.
Beribadah: Perawat paliatif Mutiara melaksanakan shalat di Yayasan Rumah Rachel (Rachel House), Jakarta. Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO
Selain Muti ada juga Tyas yang memilih untuk tidak menempuh jalur keperawatan pada umumnya dalam mengelola pasien di rumah sakit dengan waktu yang terbatas dan cenderung formal. Tyas memilih menjadi peran yang dituntut lebih dari sekadar pengetahuan medis, tetapi juga hati yang lapang dan tangan yang siap menggenggam erat dalam detik-detik terakhir kehidupan seseorang. Bagi Tyas, perawat paliatif bukan hanya tentang mendengarkan keluhan tapi juga mendengarkan keheningan. Tidak hanya mengobati rasa sakit tapi juga merawat harapan.
Perlengkapan Pasien: Perawat paliatif Tyas melintas di depan ruang perlengkapan pasien di Yayasan Rumah Rachel (Rachel House), Jakarta. Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO
Setiap kunjungannya ke pasien bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah perjumpaan batin. Anak-anak yang dia rawat bukan hanya sekadar pasien melainkan teman kecil yang mengajarkannya makna menerima dan mencintai tanpa syarat. Meskipun tubuh mereka lemah karena kanker atau HIV, senyuman anak-anak itu tetap menjadi cahaya kecil yang melawan gelapnya duka.
Alat Untuk memeriksa Pasien: Sejumlah alat untuk memeriksa pasien di Yayasan Rumah Rachel (Rachel House), Jakarta. Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO
Tyas tahu hidup mereka mungkin tidak panjang tapi bisa tetap bermakna. Maka dia hadir sepenuhnya untuk bermain, tertawa, menangis, bahkan menyuapi cokelat kesukaan sang anak hanya untuk menyaksikan matanya berbinar.
Tabung Oksigen: Tabung oksigen yang berada di Yayasan Rumah Rachel (Rachel House), Jakarta. Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO
Akhirnya untuk menjaga ketenangan batin, Muti dan Tyas memiliki ritual kecil selama tiga menit untuk melakukan meditasi sebelum mulai bekerja. Sebuah jeda sunyi yang mereka manfaatkan untuk mengosongkan isi kepala dan mengisi ulang hati. Mereka juga mencurahkan isi hatinya kepada rekan sesama perawat paliatif lainnya.
Bersiap memeriksa Pasien: Perawat paliatif Tyas bersiap untuk memeriksa pasiennya di Jakarta. Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO
Di dunia yang sering abai pada kehidupan yang segera padam, Mereka juga hadir seperti cahaya kecil yang tak pernah lelah menyala. Tak ada medali yang mereka cari, hanya harapan bahwa diakhir perjalanan, tidak ada jiwa-jiwa yang merasa sendirian. Bahwa hidup betapapun singkat tetap bisa bermakna, tetap bisa indah, tetap bisa utuh.